Cinta itu seperti tanaman. Harus selalu disiram, dipupuk dan dirawat,
agar tumbuh segar, bersemi, dan berbunga. Inilah beberapa resep yang
bisa diandalkan untuk menumbuhkan kembalicinta Anda berdua.
Berhiaslah untuknya.
Kita
semua tentu senang melihat suami atau istri yang selalu tampil
menarik. Berhias, tidak selalu identik dengan make up. Tampillah di
hadapan pasangan Anda dengan wajah yang ceria, rambut yang rapi, pakaian
yang bersih dan sedikit parfum.
Untuk para suami,
hendaknya ketika akan pulang dari bepergian memberi tahu istrinya lebih
dulu, agar ia bisa bersiap-siap menyambut suaminya.
Dalam
sebuah hadits, Jabir z berkisah, “Kami pernah bersama Nabi n dalam
suatu peperangan. Ketika kami kembali ke Madinah, kami segera untuk
masuk (ke rumah guna menemui keluarga). Maka beliau bersabda,
‘Bersabarlah sampai engkau memasuki pada waktu malam -yakni waktu
isya’- agar wanita-wanita yang kusut dapat bersisir dan wanita-wanita
yang ditinggal lama dapat berhias diri.’” (Muttafaq Alaihi). Menurut
riwayatBukhari: “Apabila salah seorang di antara kamu lama menghilang,
janganlah ia mengetuk keluarganya pada waktu malam.”
Beri dia kejutan/hadiah
Sekali-kali,
berikan hadiah atau kejutan pada pasangan Anda. Pilih barang yang
sangat disukainya, atau memang dibutuhkannya. Dari pakaian dalam, kaos
atau daster, baju koko atau jubah, atau apa saja, tergantung berapa
yang Anda anggarkan. Hadiah adalah salah satu wujud perhatian Anda pada
pasangan. Itu akan bisa menyenangkan hatinya, dan menyuburkan rasa
cintanya pada Anda.
Bisa juga Anda membawakan oleh-oleh
yang istimewa sepulang dari bepergian. Misalnya makanan atau barang yang
khas dari daerah yangbaru saja Anda kunjungi.
Ciptakan kemesraan bersamanya.
Belajarlah dari kemesraan Rasul n kepada istri-istrinya.
Sering-seringlah mencium atau memeluknya.
Dari
Aisyah x bahwa Nabi n mencium sebagian istrinya kemudian keluar
menunaikan shalat tanpa berwudlu dahulu. (Riwayat Ahmad, dinilai lemah
oleh Bukhari)
Dalam hadits lain, Ummul Mukminin Aisyah
berkata, “Salah seorang di antara kami apabila haid dan Nabi Muhammad n
ingin memeluknya, beliau menyuruhnya untuk berkain pada saat haidnya,
kemudian beliau memeluknya.” Aisyah berkata, “Siapakah di antaramu yang
dapat mengendalikan syahwat nya sebagaimanaNabi Muhammad n
mengendalikan syahwat beliau?” (Riwayat Bukhari)
Dari
hadits di atas tentu kita tahu, sekadar peluk cium tidak mesti diakhiri
dengan jima’. Semua itu dilakukan untuk menunjukkancinta kasih beliau
kepada istrinya. Seorang wanita yang diperlakukan seperti itu, akan
semakin yakin kalau ia benar-benar dicintai oleh suaminya.
Mengajak/mengundi istrinya bila bepergian.
Aisyah
berkata,Rasulullah n bila ingin bepergian, beliau mengundi antara
istri-istrinya, maka siapa yang undiannya keluar, beliau keluar
bersamanya. (Muttafaq Alaihi)
Mengajak istri untuk
bepergian adalah sunnah. Karena dengan mengajak istri, suami akan lebih
“terjaga” dalam perjalanannya. Bukankah akan ada bermacam fitnah dan
godaan yang akan dia lihat selama dalam perjalanan? Dengan membawa
istri, ia akan merasa lebih tenang. Istri pun akan senang, karena
bepergian bersama suami bisa menjadi ajang refreshing baginya.
Mandi bersama.
Ini
juga bukan hal tabu bagi suami istri, karena bisa menambah kemesraan
di antara keduanya. Rasulullah n juga pernah mandi bersama istrinya
dengan satu bejana.
Mengajak lomba.
Dalam
sebuah hadits dari Aisyah dikisahkan, bahwa Rasulullah n pernah mengajak
Aisyah berlomba lari. Ketika Aisyah masih kurus, istri tercintaNabi
itu memenangkannya. Saat Aisyah badannya gemuk, Nabilah yang menang.
Lihatlah, betapa Nabi n bukanlah suami yang “selalu serius” terhadap
istrinya. Beliau tidak hanya memberikan perintah dan larangan, tapi juga
mengajaknya bersantai dan bermain-main.
Rebahan di pangkuan istri.
Aisyah
x berkata, “Nabi Muhammad n. bersandar di pangkuanku, padahal aku
sedang haid, kemudian beliau membaca al-Quran.” (Riwayat Bukhari)
Ingat-ingat kebaikannya. Lupakan dan maafkan keburukan dan kesalahannya.
Allah
l berfirman, “Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (istri-istri
kamu), (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu,
padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (an-Nisa’: 19)
Demikian juga para istri, hendaknya bersabar bila menemui hal-hal yang kurang disukainya dari suaminya.
Berpikirlah positif.
Berpikirlah
bahwa dialah yang terbaik bagi Anda. Jangan membandingkan dirinya
dengan orang lain. Bukankah Anda sendiri tidak suka
dibanding-bandingkan?
Ingatlah firman Allah l, “Boleh jadi
kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi
(pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah
mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 216)
Ingat saat awal menikah.
Masa-masa
bulan madu, saat awal menikah begitu mengesankan. Ingat-ingatlah masa
itu, dan jangan biarkan berlalu tanpa bekas. Sekali tempo, ajaklah
pasangan Anda napak tilas ke tempat-tempat romantis atau sekedar warteg
yang pernah Anda kunjungi saat pengantinbaru.
Jangan hanya menuntut hak, namun melalaikan kewajiban.
Hak
dan kewajiban sebagai pasutri harus dilaksanakan secara seimbang.
Tidak boleh masing-masing hanya menuntut haknya, sedangkan kewajibannya
dilalaikan. Di antara hak suami atas istri ialah tidak menjauhi tempat
tidur suami dan memperlakukannya dengan benar dan jujur, mentaati
perintahnya dan tidak keluar (meninggalkan)rumah kecuali dengan izin
suaminya, tidak memasukkan ke rumahnya orang-orang yang tidak disukai
suaminya. Di antara kewajiban suami terhadap istrinya adalah memberinya
nafkah, melindunginya dan mempergaulinya dengan baik.
Berdoa.
Lengkapilah
usaha Anda dengan doa. Mohonlah kepada Allah l, agar menurunkan
sakinah, mawaddah wa rahmah dalam rumah tangga Anda. Pilihlah
waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa. Misalnya sepertiga malam
terakhir, di waktu safar (bepergian), antara adzan dan iqomat, dan pada
hari Jumat setelah asar.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar